Keluarga Pasien Menggugat RS. Melinda 2 Bandung

By Teddyredaktur 16 Jun 2020, 12:41:18 WIB Hukum
Keluarga Pasien Menggugat RS. Melinda 2 Bandung

Keterangan Gambar : M. Yos Faizal Husni, S.H., M.Hum., bersama Dr. Ira Febri Yani, Sp.,OG., M.Kes.


Bandung, mediatopnews.com -- Rumah Sakit Melinda 2 Bandung digugat melakukan Perbuatan Melawan Hukum oleh keluarga eks pasiennya alm Dr. Miftahurachman, Sp., PD., KEMD., M.Kes., FINASIM.

Gugatan ini digelar di Pengadilan Negeri Bandung sebagaimana dalam perkara nomor 171/ Pdt.G/202 PN Bdg. Gugatan ditujukan kepada Dr. Ancilla Lina L., M.M., M.Kes., M.HKes., selaku Direktur Utama Rumah Sakit Melinda 2, beralamat di Jalan Dr. Cipto No. 1 Kota Bandung.


Baca Lainnya :

Persidangan perdana pada hari Kamis 11 Juni 2020 dipimpin oleh Hakim ketua Haran Tarigan, S.H., anggota Pendeni Mustikawati, S.H., dan Erry Iriawan, S.H., yang dihadiri oleh para kuasa hukum.

Sidang akan dilanjutkan Selasa depan tanggal 16 Juni 2020 dengan acara mediasi yang menghadirkan pihak rumah Sakit Melinda 2 Bandung dan keluarga pasien.

Keluarga pasien diwakili oleh Dr. Ira Febri Yani  Sp.,OG., M.Kes., selaku istri pasien menuntut RS karena dalam pelayanan rumah sakit kepada suaminya selama dirawat hingga meninggal dunia tidak ada keterbukaan dan terdapat ketidakberesan pihak manajemen rumah sakit. 


Menurut Dr. Ira Febri Yani  Sp.,OG., M.Kes.,"Misalnya, pengambilan tindakan yang tidak memberitahukan dan meminta persetujuan pasien/keluarga, pembayaran yang harus dibayarkan dengan yang digunakan sesuai keterangan dokter ternyata berbeda, dan ketika ditanyakan ke rumah sakit, pembayaran tersebut adalah kebijakan dari manajemen dalam hal ini direktur serta jajarannya, termasuk para pemilik Rumah Sakit", ungkapnya.

Ditempat yang sama, Kuasa Hukum Penggugat H.M. Yos Faizal Husni, S.H., M.Hum., mengatakan, "Sebelum melakukan upaya hukum, istri pasien beberapa kali mendatangi dan menanyakan ke Rumah Sakit Melinda 2 Bandung dengan itikad baik untuk menyelesaikan secara kekeluargaan setelah kematian suaminya", katanya.

"Mulanya hanya ingin meminta kejelasan dan kejujuran apa yang terjadi dengan peristiwa kematian suaminya, menanyakan penyebab yang sebenarnya kematian suaminya. Namun selalu mendapatkan jawaban tidak jelas dan tidak ada kepastian",terang Yos.

"Ketika melakukan pembayaran dan mendapatkan data apa saja yang harus dibayar, istri pasien kaget, ada beberapa data pembayaran tindakan yang tidak diberitahukan sebelumnya dan tidak diminta persetujuan kepada istri pasien", katanya.

Kemudian lanjutnya, "Istri pasien mempertanyakan lagi kepada pihak RS Melinda 2, kenapa tidak ada persetujuan tindakan tehadap beberapa tindakan pada suaminya dan tidak ada pemberitahuan hasil pemeriksaan. Sebagai istri pasien selalu mendapatkan jawaban yang tidak jelas", ujarnya.

Masih menurut Yos, "Hal tersebut menunjukkan bahwa pihak RS tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan persoalan ini. Ditambah lagi pihak RS melibatkan pihak-pihak lain di luar manajemen untuk menghubungi istri pasien agar menerima apa yang pihak RS inginkan dan menyebarkan informasi kepada pihak lain yang tidak berhak tentang penyebab kematian suaminya", paparnya.

Perjalanan  sangat panjang dalam mencari keadilan dan kebenaran dalam mendapatkan penyebab kematian suaminya, hingga istri pasien mencari tahu ke dokter sebelumnya yang merawat suaminya di salah satu RS Singapore, untuk konsultasi dan meminta pendapat lain.

Berdasarkan semua data-data laboratorium dan data-data item pembayaran, akhirnya dilakukan analisa oleh dokter di Singapore penyebab kematian suaminya, dari sinilah terkuak ketidak beresan dari Rumah Sakit Melinda2 Bandung.

Karena Istri dan almarhum suaminya keduanya adalah tenaga medis serta keluarganya banyak dari kalangan tenga medis, terus mempelajari lebih lanjut data-data yang berasal dari RS dengan pendapat yang dikemukakan dokter Singapore tentang penyebab kematian suaminya.     

"Dengan itikad baik istri pasien tetap melakukan upaya mediasi kepada RS, dengan menyurati pihak-pihak yang kompeten dalam bidang medis manajemen RS untuk membantu mediasi, tetapi ada keberpihakan dalam proses teraebut dengan harus menuruti kehendaki pihak RS, kecuali Biro Hukum Organisasi Profesi tetapi tidak tuntas karena hambatan birokrasi internal", ucapnya.

Terakhir Ia mengatakan, "Agar tidak terjadi lagi kejadian yang dialami suaminya kepada pasien lain, akhirnya keluarga yang di wakili istri pasien mengajukan gugatan", pungkas Yos. 


Sayangnya, saat awak media akan mengkonfirmasi tentang berita tersebut, berdasarkan informasi yang didapat dari Staf RS, pihak RS sedang melaksanakan meeting direksi yang tidak bisa dipastikan selesainya, selanjutnya awak media memberikan nomor telpon agar dapat memberikan klarifikasi. (Red)

(Teddy/Iwnaruna)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment